Toa Seiri01, atau yang akrab dipanggil Toa, adalah seorang programmer muda yang baru saja mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah startup teknologi bernama VEN 168. Nama perusahaan itu diambil dari kode proyek rahasia pertama mereka: “Vehicle‑Enabled Navigation 168”, sebuah aplikasi navigasi berbasis AI yang diklaim dapat menemukan rute tercepat bahkan di tengah kemacetan jam sibuk Jakarta.
Setelah tiga bulan bekerja keras, Toa akhirnya mendapat bonus tahunan yang cukup besar. Ia memutuskan untuk menghabiskannya dengan “kencan romantis” bersama istrinya, Mira, di sebuah vila tepi pantai di Pelabuhan Ratu. Semua tampak berjalan mulus—kecuali satu hal yang tak terduga: Mertua (ibu Mira) memutuskan untuk “mengunjungi” mereka tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Keesokan harinya, Toa kembali bekerja di kantor. Namun, karena masih teringat komentar Nenek Lela, ia memutuskan untuk memperbaiki jaringan Wi‑Fi yang lemah di vila, berharap memberi “sentuhan teknologi” pada rumah mertua. Ia memasang router canggih dan mengkonfigurasi bandwidth‑shaping agar streaming film tidak lag.
Namun, ketika Nenek Lela menyalakan televisi untuk menonton sinetron favoritnya, gambar menjadi pixelated. Ia menoleh ke Toa dengan mata melotot. VENX-168 Pasrah Di Crot Mertua a- Toa Seiri01
“Crot! Kenapa sinetron malah jadi game pixel, Toa?”
Toa menjelaskan, “Maaf, Nenek. Saya sedang mengoptimalkan jaringan untuk streaming 4K.” Nenek Lela menimpali, “Kalau begitu, pakai Wi‑Fi yang stabil dulu, jangan pakai ‘4K’ dulu!”
Setelah beberapa percobaan, Toa berhasil menyeimbangkan jaringan sehingga sinetron tetap lancar, dan kerjaan di kantor pun tidak terganggu. Nenek Lela mengangguk puas, sambil menutup mata sejenak, seolah menguji hasil kerja suaminya. Toa Seiri01, atau yang akrab dipanggil Toa ,
Malam itu, Nenek Lela memerintahkan Toa untuk membantu menyiapkan sambal terasi. Toa, yang terbiasa mengutak‑atik kode, bukan bumbu dapur, berusaha meniru gerakan Nenek Lela. Namun, karena terlalu fokus pada rasio garam‑cabe, ia tidak sengaja menambah bawang merah sampai meluber.
Nenek Lela menatap saus sambal itu dengan alis terangkat.
“Crot! Ini sambal apa, sup krim? Bawangnya kebanyakan, Toa!” Keesokan harinya, Toa kembali bekerja di kantor
Toa menunduk, lalu menjawab dengan setengah bersalah:
“Maaf, Nenek. Saya lagi belajar, belum terbiasa.”
Mira berusaha menengahi dengan senyum. Nenek Lela pun menggeleng, lalu mengajarkan cara menakar bawang merah dengan sendok takar—meskipun ia melakukannya dengan suara keras dan gerakan dramatis.
“Kalau mau jadi programmer, jangan lupakan dasar‑dasarnya dulu!”